Kepala Divisi Pasar BUMD Kota Dumai : Presiden RI Telah Berulangkali Mengingatkan Para Elit Untuk Tidak ” Merampok ” Uang Rakyat, Namun Tak Ada Yang Mau Dengar

LakiNews| Dumai, ———-” Walau Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto telah berulangkali mengingatkan para elit ekonomi dan politik untuk tidak melakukan ” Perampokan/Pencurian ” terhadap uang rakyat. Namun yang terjadi dilapangan sampai saat ini masih banyak para petinggi Instansi, Institusi dan kalangan pembisnis ” haram ” yang tidak menghiraukan himbauan, ajakan serta seruan dari orang nomor satu di Istana Negara tersebut. ” Ujar Kepala Devisi Pasar BUMD Pembangunan Kota Dumai, Arnawadi, Sabtu ( 09/05/2026 ) tadi

Salah satu contoh ketidak Patuhan para elit politik dan elit ekonomi itu menurut Arnawadi. Adanya dugaan keterlibatan oknum oknum petinggi Institusi, Instansi, pimpinan perusahaan, dan pengusaha dalam hal kelangkaan minyak goreng kemasan merek minyak kita dipasaran saat ini.

” Kita bukan menuduh, tapi kecurigaan tidak ada pada mereka mereka itu. Kalau tidak ulah mereka. Lalu ulah siapa lagi ?. Buktinya, setelah kita kritik lewat beberapa media online, baru terlihat sedikit perubahan dilapangan

Buktinya, sekarang kelangkaan minyak goreng kemasan sudah mulai teratasi di Dumai. Mengapa ngak langka, wong minyaknya katanya dikirim ke luar daerah, seperti Medan ( Sumut ), Palembang dan Pulau Jawa. ” Ujar Asnawadi Sabtu ( 09/05/2026 ) tadi, seraya mengatakan dirinya tetap konsultasi, belajar dan minta bimbingan sama orang yang dianggapnya punya wawasan didalam hal berbisnis di tanah air

” Alhamdulilah atas bimbingan Ketua Pengawas Koperasi JJSP. Beberapa perusahaan pendistribusian lokal full dokumen sekarang bisa mulai Pesan Order (PO) seperti 20 ton CP 8 fob kuala tanjung untuk kebutuhan dalam negeri,

5000 ton CP 8 fob Dumai untuk kebutuhan ekspor, Cp10 fob Dumai 6000 ton, minyak kemasan rakyat pengambilan Kota Dumai 200.000 dus perbulan dan suplay kernel 200 ton perbulan kedumai.” Ujar Arnawadi

Untuk sekedar mengingatkan masyarakat. Menurut Arnawadi melemahnya rupiah di tanah air, tak akan berpengaruh negatif / buruk kepada pengusahan Eksport ( Eksportir ). ” Kalau mau bicara jujur.

Pelemahan rupiah memang berdampak. Dampak negatif dan positif. Tapi bukan berarti semua pihak yang terkena imbas dampak negatif.

Yah, paling paling masyarakat ekonomi lemah dan pelaku pelaku impor ( Importir ).Bagi mereka dolar yang mahal berarti biaya barang masuk meningkat.

Harga jual di dalam negeri ikut terdorong naik, Margin tertekan dan daya saing menurun. Wajar kalau mereka resah.Namun persoalannya, Keresahan itu sering dibungkus seolah-olah mewakili kepentingan nasional.

Seolah-olah semua rakyat dirugikan, Padahal tidak sesederhana itu.Di sisi lain, ada kelompok yg justru mendapatkan angin segar yaitu para pelaku eksportir.

Ketika rupiah melemah, Produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional.

Bagi negara tujuan ekspor, Ini adalah keuntungan mereka bisa membeli dengan harga lebih kompetitif.” Ujar Arnawadi lagi

Memang secara umum menurut pria muda ini, bila Eksport lancar, permintaan pasti meningkat. Volume ekspor naik dan devisa mengalir lebih besar ke dalam negeri.

Dan ketika ekspor tumbuh, Industri bergerak pesat, para pekerja terjamin, pabrik beroperasi lebih maksimal, produksi meningkat dan kebutuhan tenaga kerja ikut terdorong dan kesejahteraan karyawan berpotensi naik baik melalui stabilitas pekerjaan, peningkatan upah maupun peluang kerja baru.

” Narasinya tidak bisa disederhanakan menjadi rupiah melemah semua rugi.Yang penting pemerintah harus memastikan pelemahan tidak liar dan tetap dalam kendali, Tapi selama masih dalam batas wajar, Kondisi ini justru bisa dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat sektor ekspor sesuatu yg selama ini menjadi tulang punggung ekonomi yg sehat.” Ujar Arnawadi mengakhiri perbincangannya dengan LakiNews. Com, Sabtu ( 09/05/2026 ) tadi. ( *** )